Keluarga Penyakit

Banyak yang ingin aku ceritakan sebenarnya,, tetapi ada satu cerita yang membuatku terpana.. cerita hidup dari seseorang yang telah menjalaninya dengan tegar, sabar dan syukur..

.

Ia bilang Kebahagiaan itu bukan ketika kita kaya,, atau semua yang kita kehendaki tercapai..

Bahagia itu ketika kita bersama.. bersama keluarga. Bersama ayah, ibu dan anak. meski hanya makan pisang rebus, tetapi ketika bersama semua akan terasa indah. Menghadapi bersama tak lagi sama dengan menghadapi sendiri. Begitu ujarnya.

.

.

Aku tak meminta kalian duduk untuk membaca ini dengan seksama.. kalian bisa berdiri, lari atau sembari merebahkan diri di kasur, tak aku sarankan bagi kalian yang baru saja terbangun, karena kau akan pusing membaca nya dengan kata yang tak mudah dimengerti... 

.

.

Orang kampung bilang kami adalah keluarga penyakit. Apa yang kau bayangkan ketika ku sebut keluarga penyakit... bukan.. bukan..bukan itu, bukan keluarga yang terserang penyakit semua..

Tetapi keluarga penyakit adalah keluarga yang paling sakit hidupnya di sebuah desa, yang paling melarat hidupnya,, makan dengan ikan asin yang sudah berulat.. minum es dari salju es sisa-sisa pembersihan kulkas orang lain, pakaian dalam pun hasil pemberian orang lain.

.

.

Mereka adalah keluarga yang tetap taat meski sakit.. satu suami dan satu istri untuk menghidupi 7 orang anak.. pekerjaan hanya sebagai penjual ikan asin dipasar, baru saja menggelar dagangan. Para Anak telah gelisah meminta makan dan jajan.

.

 

Sangat sederhana membuat mereka bahagia, hasil membungkus es lilin 100 buah dihargai dengan 100 perak umpamanya, diberi semangka yang telah mengeras karena terlalu lama di freezer  atau minum susu ultra seharga 25 perak yang dititipkan dirumah tetangga untuk dijadikan es karena mereka tak mempunyai lemari pendingin. Tidak ada hayalan mereka ingin mempunyai lemari pendingin, makan sehari-haripun hanya dengan ikan asin yang telah berbelatung atau dengan satu telur dadar yang dibagi 7 potong. Pikiran mereka tak menjangkau kesana, mereka hanya berpikir bagaimana hari ini makan dan bagaimana spp mereka terbayarkan.  

.

.

Mereka anak-anak yang hebat, ketika anak-anak yang lain menikmati masa bermainnya, mereka telah banting tulang  untuk bekerja, walau hanya membungkus es lilin, meski hasil tak seberapa, tetapi itu bisa ditabung untuk membayar spp sekolahnya..

Iya benar, mereka semua masih bersekolah,, semangat mereka terlalu membara untuk mencari ilmu. 

.

.

Benar..benar..  mereka juga tak mudah dalam bersekolah..

Ada yang dititipkan ke orang lain agar bisa bersekolah.. ada pula yang menempuh puluhan kilo dengan sepeda demi bersekolah, ketika sampai tujuan, baju telah bermandikan peluh dan keringat, minyak rambut dari minyak kelapa yang membuat rapi kini telah bercampur keringat dan membuat jidat bersinar lebih cerah dibanding matahari..

.

.

Begitulah mereka, tak ada hentinya mengayuh, berjalan dan berlari untuk ilmu. Lampu teplok yang telah bertahun-tahun menemani belajar tak pernah absen untuk menghitamkan hidung mereka, jika kalian bertanya sekali lagi apakah listrik tak sampai kerumah mereka ? Tidak, bukan tak sampai kerumah mereka melainkan mereka tak sampai membayar harganya.

.

.

 Dulu pernah ada listrik dirumah mereka, tetapi semenjak pergantian itu..listrik mereka dicabut paksa, tak ada rasa kasihan sedikitpun untuk mereka, meski mereka merengek tapi kata iba tidak untuk mereka

Ayah selalu mengingatkan untuk selalu bersabar dan bersyukur, setiap kami bertanya kapan kita punya lampu putih ? Beliau hanya menjawab kita telah punya bulan berwarna putih dan lebih terang dari pada lampu putih, ada lampu templok yang setia menemani meski harus membuat hidung kami menghitam..

Tetapi kami tetap bahagia dengan keadaan itu,, kami tetap tenang menjalaninya...

Apa kuncinya ?

Jangan pernah tinggalkan shalat.. ayah kami mengajarkan bahwa seberat apapun hidupmu jangan pernah tinggalkan shalat. Tetaplah taat dengan shalat. Sesedih apa pun hidupmu pastikan dijiwamu Allah tak akan meninggalkanmu, engkau bisa melaluinya.. begitulah pesan beliau.

.

.

Bumi akan terus berputar, dan hidup seseorang juga akan terus berubah ketika ia ingin mengubahnya.. 

Tilik lah mushafmu sebentar, mari kita lihat janji Allah yang Maha Benar, mari kita buka quran surah Ali Imran 140 : 

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan (orang-orang kafir) 

Benar, ayat diatas menjelaskan bahwa seseorang akan mempunyai masa jayanya dan masa sulitnya.. maka ketika ada suatu masa engkau mengalami kejayaan maka bersyukurlah dan ketika masa tidak berpihak kepadamu maka bersabarlah.. sesungguhnya dua masa tersebut adalah ujian dan hanya titipan.. 

Kalian tau.. mereka ber tujuh telah sukses semua hari ini.. ada yang telah bekerja di perusahaan, ada yang menjadi pegawai pemerintahan, ada yang telah membangun rumah sendiri, ada yang telah mempunyai usaha besar sendiri... Orang tua mereka telah umrah saat ini..

Mereka tak pernah membayangkan sebelumnya akan menjadi seperti ini,, tetapi mereka yakin bahwa keadaan akan berubah, mereka yakin dengan janji Allah..

.

.

Sekarang mereka bukan lagi keluarga penyakit.. tetapi sekarang mereka adalah keluarga sehat.

Yaitu keluarga yang telah cukup dengan semua nya..

Pesan mereka adalah carilah pasangan dengan agama yang baik, tanggung jawab yang besar. Karena itu yang terpenting ketika kalian menghadapi ujian hidup. Tetaplah bersama dalam kondisi apapun juga.. karena cerita hidup bukanlah tentang bahagia saja.. tapi kesedihan juga bagian alur dari cerita. 

Cerita ini diambil dari cerita nyata 7 orang bersaudara dan pasutri.

Jazakumullah khair telah membaca... 


Komentar